PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA PAGATAN BESAR

Hutan mangrove merupakan penyangga kehidupan kawasan pesisir yang memberikan banyak manfaat baik secara tidak langsung maupun secara langsung kepada kehidupan liar dan masyarakat sekitarnya. Fungsi hutan mangrove yaitu: (1) sebagai pelindung lingkungan dari pengaruh oseanografi (pasang surut, arus, angin topan, dan gelombang), penjaga pasokan air tawar,  mengendalikan abrasi, mencegah intruisi air laut ke darat, kontrol terhadap banjir, penjaga kestabilan resapan air tanah, dan mitigasi perubahan iklim secara mendadak; (2) fungsi biologi, sebagai penyedia keanekaragaman hayati, daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground), dan daerah pemijahan (spawning ground) beberapa jenis ikan dan udang, serta penyuplai unsur-unsur hara utama di pantai; (3) fungsi ekonomi, sebagai sumber kayu kelas satu, bubur kayu, bahan kertas, chips, dan arang. Pengalihfungsian hutan mangrove dapat menyebabkan hilangnya fungsi dan nilai (manfaat) hutan mangrove.

Desa Pagatan Besar berada di Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Kawasan desa ini memiliki pantai ± 5 km dengan hamparan hutan mangrove yang cukup luas (± 10 hektar). Pohon mangrove yang tumbuh di sekitar pantai desa Pagatan Besar sengaja ditanam oleh pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanah Laut bekerjasama dengan Program Pengawasan Pengembangan Pesisir Tangguh (PDPT) dan masyarakat desa Pagatan Besar untuk mengembangan wisata mangrove. Kawasan wisata mangrove baru dibuka pertengahan tahun 2016 dengan perlengkapan fasilitas berupa jembatan kayu (titian) berbentuk T sepanjang ± 100 meter dan gazebo diantara jembatan kayu yang menjorok ke laut.

20181111_111215

Kawasan mangrove memiliki variasi vegetasi dan satwa liar yang bervariasi, sehingga kekayaan kawasan ini perlu dikelola dan dimanfaatkan secara konservatif agar lestari dan bermanfaat bagi manusia. Salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan pariwisata dengan konsep ekowisata. Wisata mangrove yang dilakukan tidak terpisahkan dengan upaya-upaya konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal dan kultur atau budaya. Kegiatan ekowisata mengintregasikan kegiatan pariwisata, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal melalui pengembangan potensi lokal yang dimiliki. Ekosistem mangrove merupakan sumberdaya alam yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai tempat kunjungan wisata karena keunikan yang dimilikinya.

Pengelolaan berbasis Pendidikan dan pelatihan merupakan suatu kekuatan yang dapat diandalkan dan berkesinambungan dalam menyediakan berbagai komponen kehidupan di kawasan hutan mangrove untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Dosen dan mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Konservasi Mangrove untuk Pengembangan Ekowisata di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.

20181111_154140

Fokus pengabdian diberikan pada kelompok sadar wisata (pokdarwis), karang taruna, dan aparat pemerintah desa Pagatan Besar. Peningkatan wawasan dan pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat tentang dasar-dasar ekologi lahan basah terutama ekologi mangrove, biologi konservasi di kawasan mangrove, pengenalan jenis-jenis mahkluk hidup penghuni kawasan mangrove, peraturan perundangan konservasi, pendidikan lingkungan hidup. Selain kegiatan pelatihan, kegiatan pemasangan papan himbauan dilarang berburu, penebangan pohon, dan pembakaran hutan juga dilaksanakan oleh tim pengabdian. Pada kesempatan ini, untuk menambah wawasan masyarakat dilakukan juga pemasangan papan keanekaragaman jenis burung di kawasan mangrove.

20181110_164338

IMG-20181111-WA0053 20181111_104500 20181111_110239

Menurut ketua pelaksana Maulana Khalid Riefani, pengabdian kepada Masyarakat di kawasan ekowisata mangrove pagatan besar ditujukan untuk perbaikan tata nilai masyarakat dan peningkatan peran masyarakat sebagai kader konservasi dalam pengembangan ekowisata mangrove  pagatan besar.

Pemanfaatan hutan mangrove diharapkan dapat berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Pengembangan kawasan hutan mangrove memerlukan perhatian dan kepedulian dari semua pihak, baik masyarakat pesisir, praktisi, dan pemerintah. Salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan pariwisata dengan konsep ekowisata. Wisata mangrove yang dilakukan tidak terpisahkan dengan upaya-upaya konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal dan kultur atau budaya. Model ekowisata diharapkan dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi obyek wisata berbasis alam, budaya penduduk lokal, dan potensi lokal.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki kewajiban melestarikan alam semesta dan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Agar hidup di dunia menjadi makmur sejahtera penuh keberkahan dan menjadi bekal di hari akhir kelak. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi harus bertindak arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan alam dan lingkungan, sehingga bumi terhindar dari kerusakan dan tetap lestari keberadaannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*